Oleh: inginsyahid | Maret 30, 2009

akan kita bangun rumah di syurga itu bersama-sama

syurga.

tempat yg indah.

Allah SWT selalu menyebutkannya dengan tempat yg di bawahnya mengalir sungai2, ada mata air, dan penuh ketenangan. Ada pula telaga dimana Rasulullah SAW memberi air minum di dalamnya.

subahanallah sebuah kenikamatan yg tak terhingga ketika kenyataan itu dibandingkan dengan keburkan neraka, kengerian dan siksa neraka.

lalu, kenikmatan itu semakin berarti ketika berada di syurga dengan orang-orang yang dicintai.

mari kita bangun rumah di syurga. nanti akan ada rumah PA di syurga.

_teringat kata seorang sahabat_

“iya pak kordiv, mari kita bangun rumah PA kita di syurga”

Oleh: inginsyahid | Maret 5, 2009

mujahidah setia

alhamdulillah luar biasa Allohu akbar!!!

“km harus bersyukur karena dapat melihat ibumu di dunia, krn selama sy hidup, sy tidak pernah tau ibu sy seperti apa. bahkan fotonya pun tak ada” (sms dari seorang sahabat,,)

menangis. tetesan air mata itu perlahan jatuh di jilbabku. tersadar akan sebuah nikmat tak terhingga, nikmat yg mungkin sering kita lupakan.

iya.

ibu.

ibu, adalah orang yg sangat sy cintai.  lisannya adalah petuah, nasihat, dan doa. setiap pandangannya adalah penuh kasih. setiap amarahnya adalah untuk kebaikan. setiap tetes keringatnya adalah bukti cinta kasih.

ah, ibu. engkau begitu mulia. pagi hingga sore hari adalah pelayanan sepenuhnya utk keluarga. selalu ada dalam doa, semoga Allah SWT mengaruniakan syurga.

ibu, engkaulah super woman itu.

engkaulah mujahidah setia yg tak pernah lelah.

ibu, luv u very much.

Oleh: inginsyahid | Maret 5, 2009

bersegera dalam da’wah

ya Rabbi,,apakah itu arti bersegera? apakah makna dari sebuah ruhul istijabah??

huh,,lagi2 galau karena khawatir amanahnya dicabut oleh Allah SWT. ayo chin,,ga boleh gitu,,orang lain juga berhak bantu kamu!! (tapi caranya,,,)

masya Allah.

Astaghfirullah

Oleh: inginsyahid | Maret 2, 2009

da’wah yg kucintai

da’wah tak hanya sebuah pekerjaan. sy memaknai bahwa da’wah adalah aktivitas keseharian yang harus dicintai. Kini, ketika da’wah perlahan-lahan telah mendarah daging, banyak kecintaan sy di sana.

ya. sy mencintai da’wah ini.

sy mencintai jalan yg katanya penuh liku ini.

sy mencintai medan yg tak jarang membuat sy menangis.

sy mencintai langkah ini walaupun trkadang terseok.

sy mencintai semua hal di jalan ini, termasuk duri-duri di sepanjang lintasannya

termasuk setiap tetes keringat

dan setiap pengorbanan di jalan ini.

sy mencintai da’wah ini.

sy terlalu cinta dengan da’wah ini.

maka, sy tidak pernah setuju ktika da’wah dikatakan beban, karena da’wah tidak membebani, ,tp da’wah yg dicintai.

semoga kita istiqamah di sini.

Oleh: inginsyahid | November 25, 2008

Ruhiyah, bekal berda’wah kita

Ruhiyah adalah bekal yang terbaik bagi setiap muslim, terutama bagi seorang da’i. Ruhiyah inilah yang akan memotivasi, menggerakkan dan kemudian menilai setiap perbuatan yang dilakukannya.. Keberadaan ruhiyah yang baik dan stabil menentukan kualitas sukses hidup seseorang, demikian juga dengan dakwah. Sangat tepat ungkapan yang menyatakan, “Ar-Ruhiyah qablad dakwah kama Annal Ilma qablal qauli wal amal”. Ungkapan ini merupakan “iqtibas” dari salah satu judul bab dalam kitab shahih Al-Bukhari, “Berilmu sebelum berbicara dan beramal, demikian juga memiliki ruhiyah yang baik sebelum berdakwah dan berjuang”.

Dalam konteks dakwah, menjaga dan mempertahankan ruhiyah harus senantiasa dilakukan sebelum beranjak ke medan dakwah, sehingga sangat ironis jika seseorang berdakwah tanpa mempersiapkan bekal ruhiyah yang maksimal, bisa jadi dakwahnya akan ”hambar” seperti juga ruhiyahnya yang sedang ”kering”. Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kalian bersama-sama, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu, kemudian lakukanlah amal kebaikan, dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad”. (Al-Hajj: 77-78)

Menurut susunannya, ayat di atas memuat perintah Allah kepada orang-orang yang beriman berdasarkan skala prioritas; diawali dengan perintah menjaga dan memperbaiki kualitas ruhiyah yang tercermin dalam tiga perintah Allah: ruku’, sujud dan ibadah, kemudian diiringi dengan implementasi dari ruhiyah tersebut dalam bentuk amal dan jihad yang benar. Yang diharapkan dari menjalankan perintah ayat ini sesuai dengan urutannya adalah agar kalian meraih kemenangan dan keberuntungan dalam seluruh aspek kehidupan, terlebih urusan yang kental dengan ruhiyah yaitu dakwah. Tentunya susunan ayat Al-Qur’an yang demikian bijak dan tepat bukan semata-mata hanya memenuhi aspek keindahan bahasa atau ketepatan makna, namun lebih dari itu, terdapat hikmah yang layak untuk digali karena susunan ayat atau surah dalam Al-Qur’an memang bersifat “tauqifiy” (berdasarkan wahyu, bukan ijtihad).

Peri pentingnya ruhiyah dalam dakwah dapat dipahami juga dari sejarah turunnya surah Al-Muzzammil. Surah ini secara hukum dapat dibagikan menjadi dua kelompok; kelompok yang pertama dari awal surah hingga ayat 19 yang berisi instruksi kewajiban shalat malam dan kelompok kedua yang berisi rukhshah dalam hukum qiyamul lail menjadi sunnah mu’akkadah, yaitu pada ayat yang terakhir, ayat 20. Bisa dibayangkan satu tahun lamanya generasi terbaik dari umat ini melaksanakan kewajiban qiyamul lail layaknya sholat lima waktu semata-mata untuk mengisi dan memperkuat ruhiyah mereka sebelun segala sesuatunya. Baru di tahun berikutnya turun rukhshah dalam menjalankan sholat malam yang merupakan inti dari aktivitas memperkuat ruhiyah. Hal ini dilakukan, karena mereka memang dipersiapkan untuk mengemban amanah dakwah yang cukup berat dan berkesinambungan.

Pada tataran aplikasinya, stabilitas ruhiyah harus diuji dengan dua ujian sekaligus, yaitu ujian nikmat dan ujian cobaan atau musibah. Karena bisa jadi seseorang mampu mempertahankan ruhiyahnya dalam keadaan susah dan banyak mengalami ujian dan cobaan, namun saat dalam keadaan lapang dan senang, bisa saja ia lengah dan lupa dengan tugas utamanya. Inilah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya, “Bukanlah kefaqiran yang sangat aku khawatirkan terjadi pada kalian, tetapi aku sangat khawatir jika (kemewahan, kesenangan) dunia dibentangkan luas atas kalian, kemudian karenanya kalian berlomba-lomba untuk meraihnya seperti yang pernah terjadi pada orang-orang sebelum kalian. Maka akhirnya kalian binasa sebagaimana mereka juga binasa karenanya”. (Bukhari dan Muslim). Maka seorang mukmin yang kualitas ruhiyahnya baik adalah yang mampu mempertahankannya dalam dua keadaan sekaligus. Demikianlah yang pernah Rasulullah isyaratkan dalam sabdanya, “Sungguh mempesona keadaan orang beriman itu; jika ia mendapat anugerah nikmat ia bersyukur dan itu baik baginya. Namun jika ia ditimpa musibah ia bersabar dan itu juga baik baginya. Sikap sedemikian ini tidak akan muncul kecuali dari seorang mukmin”. (Al-Bukhari)

Dalam konteks ini, contoh yang sempurna adalah Muhammad saw. Beliau mampu memelihara stabilitas ruhiyahnya dalam keadaan apapun; dalam keadaan suka dan duka, senang dan sukar, ringan dan berat. Justru, semakin besar nikmat yang diterima seseorang, mestinya semakin bertambah volume syukurnya. Semakin besar rasa syukurnya, maka akan semakin tinggi voltase dakwahnya. Begitu seterusnya sehingga wajar jika Rasulullah tampil sebagai abdan syakuran. Karena memang demikian jaminan Allah swt, “Barangsiapa yang bersyukur, maka pada hakikatnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya” (Luqman: 12). Orang yang bersyukur akan memperoleh hasil syukurnya, yaitu kenikmatan ruhiyah yang ditandai dengan hidup menjadi lebih bahagia, tenteram dan sejahtera. Karena bersyukur hakikatnya adalah untuk dirinya sendiri.

Dan ternyata kesuksesan dakwah Rasulullah saw yang diteruskan oleh para sahabatnya sangat ditentukan –selain dari pertolongan Allah- dengan kekuatan ruhiyahnya. Selain dari qiyamul lail yang menjadi amaliyah rutin sepanjang masa, cahaya Al-Qur’an juga senantiasa menyinari hatinya. Allah swt menegaskan dalam firman-Nya, “Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Ia dibawa turun oleh Ar-ruhul Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan”. (Asy-Syu’ara’: 192-194). Demikian persiapan Muhammad sebelum menjadi Rasul yang akan memberi peringatan yang merupakan tugas yang berat dan mengandung resiko adalah dengan dibekali Al-Qur’an yang akan senantiasa mengarahkan hatinya.

Dalam hal ini, Dr. Yusuf Al-Qaradawi pernah menyatakan dengan tegas rahasia kekuatan Al-Quran

“Al-Qur’an adalah kekuatan Rabbani yang akan menghidupkan hati dan pikiran”. Al-Qur’an akan senantiasa memancarkan kekuatan Allah yang akan kembali menghidupkan hati dan pikiran yang sedang dirundung duka dan kemaksiatan. Kekuatan nabi Muhammad sendiri ada pada kekuatan hatinya yang senantiasa dicharge dengan cahaya Al-Qur’an. Dan demikian seharusnya, kekuatan dakwah seseorang ditentukan oleh kekuatan ruhiyahnya, bukan dengan aspek secondary dan formalitas lainnya.

Pada masa yang sama, agar ruhiyah tetap stabil terpelihara, maka harus dijaga dengan banyak beramal, meskipun hanya sedikit. Karena amal yang terbaik menurut Rasulullah saw adalah amal yang berkesinambungan, “Sebaik-baik amal adalah yang berkesinambungan meskipun sedikit demi sedikit”. (Tirmidzi). Dalam konteks ini, Inkonsistensi ruhiyah pernah ditegur oleh Rasulullah saw, “Janganlah kamu seperti si fulan; dahulu ia rajin qiyamul lail, kemudian ia tinggalkan”.

Penguatan aspek ruhiyah sebelum yang lainnya pada hakikatnya merupakan bentuk kewaspadaan seorang mukmin di hadapan musuh besarnya yaitu setan yang seringkali bergandeng bahu dengan manusia untuk melancarkan serangannya dan merealisasikan misinya. Tepat ungkapan Prof. Muhammad Mutawlli Asy-Sya’rawi:.

Setan akan senantiasa mengintai dan mencari titik lemah manusia”. Dengan licik dan komit, setan senantiasa mengincar kelemahan manusia tanpa henti, karena ia tahu bahwa setiap manusia memiliki kelemahan dan oleh karenanya manusia diperintahkan untuk berlindung hanya kepada Allah dengan memperkuat aspek ruhiyahnya.

Demikianlah, aspek ruhiyah selalu menjadi potensi andalan para pemimpin dakwah yang telah menoreh tinta emas dalam sejarah dakwah ini. Mereka adalah orang-orang yang terbaik dalam kualitas ruhiyah dan amalnya. “Ruhbanun bil Lail wa Fursanun bin Nahar”. Bisa jadi kelemahan dan kelesuan dakwah memang berpangkal dari kelemahan dan kelesuan ruhiyah. Saatnya para da’i menyadari urgensi ruhiyah sebelum amal dakwah dengan memberi perhatian yang besar tentang aspek ini dalam pembinaan. Karena demikianlah memang dakwah mengajari kita melalui generasi terbaiknya.

Wallahu ‘alam bis shawab

dikutip dari www.dakwatuna.com

Oleh: inginsyahid | November 24, 2008

Ruh Perjuangan

Da’wah berarti menyeru. Atau kita sering membahasakannya dengan amar ma’ruf nahi munkar.

Rabbaniyatudda’wah adalah da’wah yang rabbani, ketika kita mengajak orang untuk kembali pada Rabb-nya dan risalah yang kita bawa pun adalah risalah yang rabbani (Al-Quran dan Sunnah).

Ikhwahfillah


sadarkah antum antunna bahwa cerminan diri kita

menunjukkan apa yang kita bawa??

Bahwa dalam setiap lisan, sikap, cara berpikir, dan tingkah

laku merupakan cerminan diri seorang da’i.

Seorang da’i yang membawa risalah rabbaniyah tadi,

seharusnya menunjukkan sikap yang rabbaniyah dalam

akhlaqnya.

bukan manusia langit, tapi memang begitulah manusia muslim.

bukankah pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang patut diteladani??
Rasulullah SAW  bukan seorang manusia langit, karena nilai-nilai islam dan akhlaq beliau sangat membumi, down to earth. namun seringkali karena manusia terlalu banyak alasan, sehingga risalah rabbaniyah dan da’wah yang rabbani dianggap menjadi sesuatu yang sangat melangit.

lalu, jika da’wah kita adalah da’wah yang

Rabbani,,sudahkah menjadi da’i yang Rabbani??

Ingatlah saudaraku, bahwa sesungguhnya hidayah itu milik Allah SWT. Hikmah dan nasehat yang kita sampaikan tidak akan merasuk ke dalam hati mad’u  jika diri kita jauh dari Allah SWT. Allah-lah Penguasa hati-hati manusia dan Yang Membolak-balikkan hati manusia.

Sekali lagi. Kedekatan kita kepada Allah SWT.

Bagaimana akan menunjukkan seseorang kpd Allah SWT jika da’i-nya sendiri tidak dekat dengan Allah SWT??

bgmn tilawah antum??
bgmn hafalan antum??
bgmn shadaqah antum??
bgmn qiyamul lail antum??
bgmn dhuha antum??
bgmn kabar keimanan antum selama di MaTa’ ini??

_____________________________________________________________________________

tulisan di atas merupakan sebuah perenungan, bahwa dalam da’wah tidak hanya aspek profesionalisme manusia, tapi ada “tangan-tangan” Allah SWT di sana. dan tidak mungkin “tangan-tangan” itu akan mengulur jika kita tidak dekat dengan Allah SWT.

Salah satu yang terpenting dalam da’wah adalah RUH PERJUANGAN.
Ketika dalam setiap langkah yang mengiring, lelah dalam persiapan logistik, infaq harta untuk konsumsi, dan keringat kita karena lelah berpikir adalah investasi akhirat.

ketika dalam setiap ikhtiar kita dalam da’wah ini adalah sebuah kesadaran bahwa da’wah merupakan kebutuhan, bahwa da’wah bukan sesuatu yang dipaksakan, bahwa da’wah yang sebenarnya adalah da’wah yang merasuk ke dalam hati-hati manusia. bahwa da’wah adalah sebuah kelezatan, bahwa setiap yang luka dan duka adalah keniscayaan yang begitu ni’mat.

Adakah ruh itu dalam perjuangan kita di sini???

ataukah semata menjalankan program kerja???

Wallahu’alam bishshawab.

Oleh: inginsyahid | November 13, 2008

bergetarlah hati mereka jika dibacakan ayat-ayat Kami

“..qaa luu Rabbunallaahu tsummastaqaamu tatanazzalul ‘alauihimul malaaikah…”

siang itu, ketika penat pada puncak seperti puncaknya matahari pagi ini,,

mengalirlah lu-luh lembut yang meluluhkan kesombongan hati ini. Menghancurkan benteng kepenatan yang semula memenuhi ruang kepala dan hati ini.

seorang ustadz dari Timur Tengah berceramah hari itu, dan seperti biasa,,beliau selalu membacakan beberapa potongan ayat. Dan ini sudah kedua kalinya hati ini luluh karena ayat yg dibacakan.

memang pada hakikatnya, Al-Quran bukan sekedar bacaan apalagi lantunan syair. Tapi, makna Al-Quran lebih dari itu. AL-Quran adalah media komunikasi seorang hamba dengan Rabb-nya, surat cinta terindah dari-NYA.

Al-Quran adalah perkataanNYA secara langsung untuk kita, umatnya. Asli dan tanpa revisi. Murni dan cinta sejati.

Adakah kita merasakan itu? atau hanya semata bacaan belaka yg harus rutin kita baca tiap hari??

Oleh: inginsyahid | Agustus 27, 2008

siaplah selalu berkorban utk da’wah

astagfirullahal ‘adziim

innaalillaahi wa inna ilaih raajiuun

sudah hampir 3 hari menjabat sbg Korwat PA. PA?? apaan??

Jadi, PA itu adalah divisi yg bergerak di bidang Pembinaan (kaderisasi), PA= Pembinaan Anggota.

Berat.

Sungguh berat.

bahkan ketika yg dihadapi adalah orang dengan karakter yg berbeda, sy harus yakin BISA!!!

awalnya egois,,ingin menarik “yg lain” ke sini.

tapi sudahlah,,sudah saatnya berkorban, korbankan perasaanmu. korbankan semua ketidaknyamananmu ukhtiy. Anti yg butuh da’wah bukan da’wah yg membutuhkan anti!!!

ingat itu,,

majulah terus.

innallaha ma’ana

Oleh: inginsyahid | Juni 28, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori